Mampukah Valve Mempertahankan Eksistensi Dota 2?

Mampukah Valve Mempertahankan Eksistensi Dota 2?

Satu dekade terakhir, game bergenre MOBA besutan Valve yakni Dota 2 merupakan yang paling banyak dimainkan oleh penggemar game online, setiap hari jumlahnya bahkan bisa menembus jutaan orang yang tersebar di seluruh dunia.

Turnamen Dota 2 bertajuk The International 9 tahun 2019 lalu menjadi perbincangan kalangan gamer, sebab pihak penyelenggara menyediakan total hadiah yang terbilang fantastis, nilainya sebesar 34,3 juta Dolar AS atau sekitar Rp. 480 Miliar!

Namun, game satu ini sekarang dianggap nampak semakin menurun peminatnya, euforia keberadaannya terlihat lesu, dan kemudian melahirkan sebuah pertanyaan penting: mampukah Valve mempertahankan eksistensi Dota 2?

Ada banyak hal yang bisa dijadikan alasan kenapa game yang sudah sangat mendunia dipertanyakan posisinya dalam dunia game online, asumsi itu berkaca dari kejadian yang pernah menerpa Starcraft dan Starcraft 2 yang sebelumnya jadi primadona.

Player Beralih Game

Para pemain baru Dota 2, yang sedang mencoba untuk menggeluti game ini, banyak yang memutuskan pensiun dini, mengingat dibutuhkan keterampilan yang mumpuni agar dapat bersaing dengan pemain lainnya, tapi yang menjadi masalah tidak mudah dalam menguasai gameplay karena cukup sulit.

Akibatnya, memunculkan ketimpangan skill antara satu pemain dengan pemain lain, jadi tidak perlu heran kalau peringkat MMR tertinggi dunia saat ini diduduki oleh pemain-pemain lama yang sudah memiliki pengalaman panjang, sejak tahun 2015-an belum ada nama baru yang merebut posisi.

Komunitas yang Buruk

Kenapa Starcraft 2 bisa tenggelam di kancah game online? Komuitas yang buruk di dalam game salah satu alasannya. Ada banyak pemain dengan perilaku toxic dan rasis, yang mengejutkan adalah kasus di mana seorang player profesionalnya melontarkan ucapan SARA saat pertandingan berlangsung, mengakibatkan dirinya dikeluarkan dari tim.

Komunitas di Dota 2 tidak kalah buruknya, dan hal itu bikin pemain-pemain baru merasa tidak nyaman untuk terus melanjutkan bermain game ini, lagi-lagi menjadi dorongan bagi mereka untuk meninggalkan Dota.

Trend Video Game Berganti Rupa

Memang, pada awal tahun 2010-an Dota 2 terbilang cukup menarik jika dibandingkan dengan game-game yang ada pada masa itu. Namun, kehadiran game bergenre battle royale seperti PlayerUnknown’s Battlegrounds (PUBG) dan Fortnite membuat trend video game berganti rupa.

Mereka (game) yang tergolong baru juga cukup mudah untuk dimainkan, tidak sesulit Dota 2, semakin memperkuat keyakinan para gamer untuk beralih. Belum lagi ditambah dengan gempuran game mobile yang peminatnya semakin meningkat.

Hipotesis Dota 2 Akan Tutup Usia

Selama Valve hanya mengandalkan cara-cara lama, yaitu menyediakan hadiah dengan nilai yang fantastis dalam sebuah turnamen Dota 2, hal itu sudah terbukti tidak bisa menjadi jawaban untuk menarik animo pemain-pemain baru. Dan mereka hanya akan menggali kuburannya sendiri.

Bagaimanapun, Valve mesti menyelesaikan persoalan-persoalan yang membuat pengalaman gameplay menjadi tidak nyaman agar pemain baru atau pemain yang sudah ada tidak meninggalkan Dota 2, bukan berfokus hanya sekadar menggelar kompetisi mentereng. Jika tidak, Dota 2 tutup usia bukanlah hal yang tidak mungkin.

Leave a Reply