Mampukah Valve Mempertahankan Eksistensi Dota 2?

Jumlah Pemain Aktif Dota 2 Meningkat Hingga 700 Ribu

Kabar baik bagi Valve, sebab salah satu game besutannya yakni Dota 2 mengalami peningkatan pemain aktif hingga 700 ribu di bulan Maret, padahal sebelumnya game legendaris ini sempat disebut-sebut akan tenggelam.

Jika kita beramsusi, peningkatan terhadap jumlah pemain aktifnya mungkin dipengaruhi oleh dampak dari wabah virus corona yang sedang melanda dunia, di mana orang-orang dihimbau untuk berdiam diri di rumah, dan Dota 2 merupakan alternatif menghilangkan rasa bosan.

Jumlah pemain aktifnya sempat mengalami penurunan drastis mulai bulan November tahun lalu, namun memasuki Januari hingga Februari 2020 game ini justru menyentuh angka lebih dari 650 ribu pemain.

Momentum Kebangkitan

Apa yang terjadi sekarang ini, bukan berarti Dota 2 terlepas dari kondisi di mana mereka berpotensi bakal “bangkrut” karena masih banyak masalah yang harus diselesaikan oleh Valve agar para player tidak berpaling, dan ini merupakan momentum mereka untuk melakukan perbaikan.

Seperti diketahui, banyak pemainnya yang mengeluh seperti persoalan ping internet yang terkadang mengalami kenaikan tanpa ada sebab yang jelas, khususnya di regional Amerika Selatan dan Utara. Dan akhirnya Valve merilis beberapa patch yang di dalamnya terdapat banyak sistem baru, khususnya untuk masalah matchmaking.

Yang paling menjadi sorotan adalah mengenai keberadaan pemain smurf yang mengganggu pemain lain. Namun, sepertinya usaha mereka membuahkan hasil, dengan pertumbuhan pemainnya yang lumayan baik.

Pekerjaan Rumah Valve

SBO pernah mempublikasikan pandangannya terkait nasib Dota 2 lewat artikel berjudul: Mampukah Valve Mempertahankan Eksistensi Dota 2? Ada tiga poin yang menurut kami bakal bikin Dota kalah dalam persaingan dunia game.

Pertama, perihal pemain-pemain baru yang cepat beralih game karena dibutuhkan keterampilan yang mumpuni agar dapat bersaing dengan pemain lainnya, dan yang menjadi masalah adalah tidak mudah dalam menguasai gameplay karena cukup sulit.

Kedua, komunitas yang buruk. Ada banyak pemain dengan perilaku toxic dan rasis, hal itu bikin pemain-pemain baru merasa tidak nyaman untuk terus melanjutkan bermain game ini. Menjadi dorongan bagi mereka untuk meninggalkan Dota.

Ketiga, trend video game yang berganti rupa. Hal ini dipengaruhi kehadiran game bergenre battle royale seperti PlayerUnknown’s Battlegrounds (PUBG) dan Fortnite, belum lagi ditambah dengan gempuran game mobile yang peminatnya semakin meningkat.

Leave a Reply